PERILAKU KONSUMEN DAN PERIKLANAN
Dalam
ilmu ekonomi, secara luas konsumen di definisikan sebagai pengguna barang
ataupun jasa. Sedangkan pasar juga dapat diartikan sebagai tempat bertemunya
antara pembeli dan penjual yang menawarkan barang ataupun jasa sehingga terjadi
proses jual beli.
Tidak
lepas dan karakter individu konsumen, namun perilaku tersebut juga muncul
karena gaya komunikasi produk, image building, trend an beragam hal lainnya.
Namun ada benang merah yang bisa ditarik dan beragam konsumen yang ada dan
dikelompokkan menjadi satu konsumen dengan ciri tertentu. Penggolongan konsumen
berdasar ciri-ciri tertentunya sering disebut dengan perilaku konsumen.konsumen
memiliki karakter dan perilaku yang berbeda tergantung dan beragam aspek. Pasar
di dunia modern semakin luas pengelompokannya, namun masih tetap bisa dikenali
dengan pengelompokan pasar berdasar ciri-ciri tertentu.
Seringkali
pengelompokan pasar ini disebut sebagai segmentasi pasar yang sangat berguna
bagi para manager pemasaran untuk menjual produk ataupun jasanya pada pasar
yang sesuai. Untuk itu penting sekali bagi para akademisi terlebih-lebih bagi
para praktisi untuk mengenal segmentasi pasar dan perilaku konsumen pada pasar
tersebut agar barang ataupun jasa yang akan ditawarkan bisa diterima dengan
baik.
A.
Perilaku Konsumen
Perilaku
konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan sumber
daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang. Perilaku
konsumen adalah tingkah laku dan konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan
pencarian untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk
dan jasa mereka.
Wujud
konsumen:
1.
Personal Consumer
: Konsumen ini membeli
atau menggunakan barang atau jasa untuk penggunaannya sendiri.
2.
Organizational Consumer :
Konsumen ini membeli atau
menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan
organisasi tersebut
Berdasarkan landasan teori, ada dua faktor dasar
yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
* Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan
faktor yang meliputi pengaruh keluarga, kelas sosial, kebudayaan, marketing
strategy, dan kelompok referensi. Kelompok referensi merupakan kelompok yang
memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung pada sikap dan prilaku
konsumen. Kelompok referensi mempengaruhi perilaku seseorang dalam pembelian
dan sering dijadikan pedoman oleh konsumen dalam bertingkah laku.
* Faktor internal
Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor internal adalah motivasi,
persepsi, sikap, gaya hidup, kepribadian dan belajar. Belajar menggambarkan
perubahan dalam perilaku seseorang individu yang bersumber dari pengalaman.
Seringkali perilaku manusia diperoleh dari mempelajari sesuatu.
v
DEFINISI SIKAP KONSUMEN
Sikap merupakan kecenderungan yang dipelajari, ini berarti bahwa sikap yang
berkaitan dengan perilaku membeli terbentuk sebagai hasil dari pengalaman
langsung mengenai produk, informasi secara lisan yang diperoleh dari orang lain
atau terpapar oleh iklan di media masa, internet dan berbagai bentuk pemasaran
langsung. Menurut Gordon Allpor dalam Hartono Sastro wijoyo(2005), Sikap adalah
Mempelajari kecenderungan memberikan tanggapan pada suatu obyek baik disenangi
maupun tidak disenangi secara konsisten.
v
TINGKAT KETERLIBATAN KONSUMEN
Tingkat komitmen pada sebuah sikap berhubungan dengan keterlibatan konsumen
terhadap objek sikap. Konsumen lebih suka mempertimbangkan merek yang
menyebabkan sikap positif yang kuat. Tingkat-tingkat keterlibatan konsumen :1. Compliance, tingkat terendah keterlibatan
2. Identifikasi
3. Internalisasi , tingkat tertinggi keterlibatan
Gambar 1.1 : MODEL PRILAKU KONSUMEN

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN
Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (1996) keputusan pembelian dari pembeli sangat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologi dari pembeli.
* Faktor Budaya
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen.
Perusahaan harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya dan kelas sosial pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya.
Setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Sub-budaya dapat dibedakan menjadi empat jenis: kelompok nasionalisme, kelompok keagamaan, kelompok ras, area geografis. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering kali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Kelas-kelas sosial adalah masyarakat yang relatif permanen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan, pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan variable lain.
* Faktor Sosial
Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti kelompok kecil, keluarga serta peranan dan status sosial konsumen. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil. Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung. Definisi kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai sasaran individu atau bersama.
Keluarga dapat pempengaruhi perilaku pembelian. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Keputusan pembelian keluarga, tergantung pada produk, iklan dan situasi.
Seseorang umumnya berpartisipasi dalam kelompok selama hidupnya-keluarga, klub, organisasi. Posisi seseorang dalam setiap kelompok dapat diidentifikasikan dalam peran dan status. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat.
* Faktor Pribadi
Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli.
Konsumsi seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga. Beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis. Orang-orang dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya. Pekerjaan mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu.
Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pemilihan produk. Situasi ekonomi seseorang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya), tabungan dan hartanya (termasuk presentase yang mudah dijadikan uang ).
Gaya hidup seseorang adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan “seseorang secara keseluruhan” yang berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosial seseorang.
Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang berada dari setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang relatif konsisten. Kepribadian dapat merupakan suatu variabel yang sangat berguna dalam menganalisa perilaku konsumen. Bila jenis- jenis kepribadian dapat diklasifikasikan dan memiliki korelasi yang kuat antara jenis-jenis kepribadian tersebut dengan berbagai pilihan produk atau merek.
* Faktor Psikologis
Pemilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi oleh empat faktor psikologis, yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan serta kepercayaan.
Motivasi merupakan kebutuhan yang cukup menekan untuk mengarahkan seseorang mencari cara untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Beberapa kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan ini timbul dari suatu keadaan fisiologis tertentu, seperti rasa lapar, rasa haus, rasa tidak nyaman. Sedangkan kebutuhan-kebutuhan lain bersifat psikogenik yaitu kebutuhan yang timbul dari keadaan fisologis tertentu, seperti kebutuhan untuk diakui, kebutuhan harga diri atau kebutuhan diterima.
Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda-beda dari objek yang sama karena adanya tiga proses persepsi:
• Perhatian yang selektif
• Gangguan yang selektif
• Mengingat kembali yang selektif
Pembelajaran menjelaskan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Sedang kepercayaan merupakan suatu pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
* Faktor Marketing Strategy
Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam memberitahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah
(1) Barang, (2) Harga, (3) Periklanan dan (4) Distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan.
Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran. Kebutuhan ini digambarkan dengan garis panah dua arah antara strategi pemasaran dan keputusan konsumen dalam gambar 1.1 penelitian pemasaran memberikan informasi kepada organisasi pemasaran mengenai kebutuhan konsumen, persepsi tentang karakteristik merek, dan sikap terhadap pilihan merek.
Strategi pemasaran kemudian dikembangkan dan diarahkan kepada konsumen. Ketika konsumen telah mengambil keputusan kemudian evaluasi pembelian masa lalu, digambarkan sebagai umpan balik kepada konsumen individu. Selama evaluasi, konsumen akan belajar dari pengalaman dan pola pengumpulan informasi mungkin berubah, evaluasi merek, dan pemilihan merek. Pengalamn konsumsi secara langsung akan berpengaruh apakah konsumen akan membeli merek yang sama lagi.
Panah umpan balik mengarah kembali kepada organisasi pemasaran. Pemasar akan mengiikuti rensponsi konsumen dalam bentuk saham pasar dan data penjualan. Tetapi informasi ini tidak menceritakan kepada pemasar tentang mengapa konsumen membeli atau informasi tentang kekuatan dan kelemahan dari merek pemasar secara relatif terhadap saingan. Karena itu penelitian pemasaran diperlukan pada tahap ini untuk menentukan reaksi konsumen terhadap merek dan kecenderungan pembelian dimasa yang akan datang. Informasi ini mengarahkan pada manajemen untuk merumuskan kembali strategi pemasaran kearah pemenuhan kebutuhan konsumen yang lebih baik.
PEMBELAJARAN KONSUMEN
(CONSUMER LEARNING)
Dari
pengertian perilaku konsumen pada bahasan sebelumnya, ada dua elemen penting
yaitu elemen proses pengambilan keputusan dan elemen kegiatan secara fisik.
Kedua elemen tersebut melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan serta
menggunakan barang dan jasa. Konsumen membeli barang dan jasa adalah untuk
mendapatkan manfaat dari barang dan jasa tersebut. Jadi perilaku konsumen tidak
hanya mempelajari apa yang dibeli atau dikonsumsi oleh konsumen saja, tetapi
juga dimana, bagaimana kebiasaan dan dalam kondisi macam apa produk dan jasa
yang dibeli. Konsep pembelajaran dibutuhkan memahami kebiasaan, pembelajaran
dapat didefenisikan sebagai perubahan perilaku yang berasal dari hasil
pengalaman masa lalu. Ada dua aliran pemikir tehadap pemahaman proses
pembelajaran konsumen
(1) pembelajaran perilaku. Menitiberatkan pada dorongan pada
pengaruh perilaku atau perilaku itu sendiri.
(2) pembelajaran kognitip
menitiberatkan pada pemecahan masalah dan menekankan pada variabel pemikiran
konsumen yang mempengaruhi pembelajaran.
Dalam kelompok perilaku dikembangkan dua teori pembelajaran,
perbedaan terjadi pada “ classical conditioning “ dan “ Instrumental
conditioning. Pada “ classical conditioning” menerangkan perilaku berdasar pada
pendirian hubungan tertutup antara dorongan primer dan dorongan sekunder. “
Instrumental conditioning “ memandang perilaku sebagai fungsi dari tindakan
konsumen . Kepuasan mengarahkan pada kemungkinan melakukan pembelian.
Pembelajaran mengarahkan kepada pembelian yang berulang dan
kebiasaan. Dalam model yang menggambarkan perilaku kebiasaan pembelian,
pengarahan kebutuhan mengarah langsung pada perhatian membeli, pembelian
selanjutnya, dan evaluasi sesudah pembelian. Proses pencarian informasi dan
evaluasi merek sangat sedikit (minimal).
Kebiasaan menggambarkan dua fungsi penting, yaitu penurunan resiko
untuk pembelian dengan tingkat keterlibatan yang tinggi dan penghematan waktu
serta energi untuk produk dengan tingkat keterlibatan yang rendah.
Kebiasaan seringnya mengarahkan kepada kesetiaan
merek yaitu pada pembelian yang berulang berdasarkan pada kesesuaian merek.
Teori pembelajaran yang berbeda menjabarkan dua pandangan yang berbeda terhadap
kesetiaan merek. Pendekatan instrumental conditioning menunjukkan bahwa
pembelian yang konsisten terhadap suatu merek mencerminkan komitmen terhadap
suatu merek. Tetapi sebagian loyalitas mencerminkan pembelian yang berulang
adalah bukan karena komitmen dengan merek tetapi merupakan proses inertia. Kelompok
kognitip percaya bahwa perilaku saja tidak cukup sebagai ukuran loyalitas,
diperlukan komitmen sikap terhadap suatu merek.
v STRATEGI PERUBAHAN SIKAP
Strategi perubahan sikap dapat
dilakukan baik terhadap produk dengan keterlibatan tinggi, maupun untuk produk
dengan tingkat keterlibatan rendah. Usaha mengarahkan audiens untuk produk
dengan keterlibatan rendah ditempuh dengan mentransformasi situasi ke arah
keterlibatan konsumen yang tinggi.
Perubahan sikap dapat dilakukan
melalui 5 (lima) strategi berikut :
- Mempengaruhi persepsi konsumen yang berkaitan dengan fungsi sikap yaitu fungsi manfaat, fungsi citra diri, fungsi nilai-nilai, fungsi pengetahuan. Agar terbentuk sikap positif pada konsumen, maka dalam mempromosikan produk sebaiknya pemasar memperhatikan aspek fungsi sikap.
- Menghubungkan produk dengan kelompok atau acara yang dikagumi
Sikap dihubungkan dengan sebagian
atau berbagai golongan, peristiwa sosial, atau kegiatan amal tertentu.
- Memecahkan masalah dua sikap yang bertentangan
Para konsumen dapat diyakinkan bahwa
sikap mereka yang negatif terhadap produk atau merek tertentu sebetulnya tidak
bertentangan dengan dengan sikap yang lain, mereka dapat dibujuk untuk merubah
penilaian mereka terhadap merek tersebut ( beralih dari sikap negatif ke sikap
positif ).
- Mengubah komponen multi atribut
Untuk mengubah sikap konsumen
pemasar menambah atribut pada produknya dengan melengkapi manfaat atau hal lain
yang dapat meningkatkan keunggulan produknya.
5.
Mengubah keyakinan konsumen terhadap merek pesaing
Pemasar untuk mengubah sikap
konsumennya dapat membandingkan produknya dibandingkan produk lain, dengan
harapan agar konsumen berubah keyakinannya/ kepercayaannya terhadap merek
pesaing.
·
Sikap terhadap Iklan
Dalam usaha memahami dampak iklan atau sarana promosi lainnya seperti
katalog pada sikap konsumen pada berbagai produk atau merek tertentu. Konsumen
membentuk berbagai perasaan (pengaruh) dan pertimbangan kognisi sebagai akibat
keterbukaan terhadap iklan. Perasaan dan pertimbangan ini akhirnya mempengaruhi
sikap konsumen terhadap iklan dan keyakinan terhadap merek yang diperoleh dari
iklan.
·
Manfaat
Perilaku Konsumen
Perilaku
konsumen sangat beragam tergantung pada pemanfaat atau pengguna. terdapat dua
kelompok pemanfaat: kelompok peneliti (riset) dan kelompok yang berorientasi
implementasi (Peter dan Olson, 1999).
Peran
perilaku konsumen bagi pemasar atau produsen adalah mampu:
- Membujuk konsumen untuk membeli produk yang dipasarkan.
- Memahami konsumen dalam berperilaku, bertindak dan berpikir, agar pemasar atau produsen mampu memasarkan produknya dengan baik.
- Memahami mengapa dan bagaimana konsumen mengambil keputusan, sehingga pemasar atau produsen dapat merancang strategi pemasaran dengan baik.
Peran
perilaku konsumen bagi lembaga pendidikan dan perlindungan konsumen:
Untuk
mengetahui dan mempengaruhi konsumen; yakni untuk membantu konsumen dalam
memilih komoditas dengan benar, terhindar dan penipuan serta menjadi konsumen
yang bijaksana.
Peran
perilaku konsumen bagi organisasi pemerintah dan politik:
- Dalam hal ini pemerintah berkewajiban untuk mempengaruhi pilihan konsumen melalui pelarangan terhadap produk bisnis yang merugikan konsumen.
- Sebagai dasar perumusan kebijakan publik dan perundang-undangan untuk melindungi konsumen.
Kelompok
konsumen individu maupun organisasi akan menukarkan sumberdaya yang dimiliki
untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga dan perilaku konsumen dapat membantu
mencapai tujuan dalam pemenuhan kebutuhan berbagai macam produk. Ditinjau dari
pengambilan keputusan, konsumen terdiri atas konsumen potensial .Calon konsumen
dan konsumen yang sudah melakukan pembelian.
KEPUTUSAN PEMBELIAN
Setiap konsumen melakukan berbagai macam
keputusan mengenai aktifitas kehidupan. Seringkali berbagai macam keputusan
harus dilakukan oleh setiap konsumen pada setiap hari. Schiffman dan Kanuk
(1994) dalam Ujang Sumarwan (2004:289) mendefinisikan suatu keputusan sebagai
pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif.
Pada saat konsumen membeli
sebuah produk, umumnya konsumen mengikuti suatu proses atau tahapan dalam
pengambilan keputusan. Menurut Engel et al. (1994:31-32) dan Lamb et al.
(2001:188), ada lima tahapan yaitu (1) pengenalan kebutuhan, (2) pencarian
informasi, (3) evaluasi alternatif, (4) keputusan pembelian, dan (5) perilaku
pascapembelian.
Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian oleh konsumen diawali sejak
pembeli mengenali kebutuhan atau masalah. Kebutuhan tersebut dapat ditimbulkan
oleh rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal, terjadi pada
salah satu kebutuhan umum seseorang (seperti lapar dan haus) telah mencapai
ambang batas tertentu dan mulai menjadi pendorong. Sedangkan rangsangan
eksternal, salah satunya terjadi karena seseorang menonton iklan atau melihat
produk baru milik tetangganya.
Pencarian Informasi
Setelah konsumen yang terangsang kebutuhannya,
konsumen akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Orang lebih
peka terhadap informasi produk. Selanjutnya, orang mulai aktif mencari
informasi: bertanya kepada teman, mendatangi toko untuk mencari tahu atau
membuka-buka internet untuk membandingkan spesifisikasi dan harga barang.
Evaluasi Alternatif
Evaluasi umunya mencerminkan keyakinan dan sikap
yang mempengaruhi perilaku pembelian mereka. Keyakinan (belief) adalah gambaran
pemikiran yang dianut seseorang tentang gambaran sesuatu. Keyakinan seseorang
tentang produk atau merek mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Yang tak
kalah pentingnya dengan keyakinan adalah sikap. Sikap (attitude) adalah
evaluasi, perasaan emosi, dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan atau
tidak menguntungkan dan bertahan lama pada sesorang pada objek atau gagasan
tertentu (Spector, 2000 dalam Kotler dan Keller, 2007).
Keputusan Pembelian
Dalam suatu kasus pembelian, konsumen bisa
mengambil beberapa sub keputusan, meliputi merk, pemasok, jumlah, waktu
pelaksanaan dan metode pembayaran. Contohnya ketika membeli kendaraan atau
peralatan mesin. Namun dalam pembelian produk sehari-hari, keputusan konsumen
bisa jadi lebih sederhana. Contohnya ketika membeli gula, seorang konsumen
tidak banyak berfikir tentang pemasok atau metode pembayaran.
Perilaku Pascapembelian
Setelah pembelian dilakukan, konsumen akan selalu
siaga terhadap informasi yang mendukung keputusannya. Konsumen akan membandingkan
produk yang telah ia beli, dengan produk lain. Hal ini dikarenakan konsumen
mengalami ketidakcocokan dengan fasilitas-fasilitas tertentu pada barang yang
telah ia beli, atau mendengar keunggulan tentang merek lain.
Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh ciri-ciri kepribadiannya, termasuk usia, pekerjaan, keadaan ekonomi. Perilaku konsumen akan menentukan proses pengambilan keputusan dalam melakukan pembelian.
Menurut Kotler (1997) ada beberapa tahap dalam mengambil suatu keputusan untuk melakukan pembelian, anatara lain:
1. Pengenalan Masalah
Mmerupakan faktor terpenting dalam melakukan proses pembelian, dimana pembeli akan mengenali suatu masalah atau kebutuhan.
2. Pencarian informasi.
Seorang selalu mempunyai minat atau dorongan untuk mencari informasi. Apabila dorongan tersebut kuat dan obyek yang dapat memuaskan kebutuhan itu tersedia maka konsumen akan bersedia untuk membelinya.
3. Evaluasi Alternatif
Konsumen akan mempunyai pilihan yang tepat dan membuat pilihan alternatif secara teliti terhadap produk yang akan dibelinya.
4. Keputusan Pembeli
Setelah konsumen mempunyai evaluasi alternatif maka konsumen akan membuat keputusan untuk membeli. Penilaian keputusan menyebabkan konsumen membentuk pilihan merek di antara beberapa merek yang tersedia.
Faktor-faktor yang memengaruhi
Terdapat lima faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:[1]- Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk mencapai tujuan tertentu.[1]
- Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap rangsangan tersebut.[1]
- Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.[1]
- Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan.[1] Integrasi merupakan respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.[1]
CONTOH TESIS
Pasta gigi merupakan produk consumer
goods yang berdasarkan kebiasaan pembelian
konsumennya dapat digolongkan menjadi convenience goods,
yaitu produk yang dibeli dan dipakai secara teratur (staples).
Berdasarkan durability–nya, pasta gigi merupakan produk nondurable yaitu
produk yang digunakan sekali pakai. Strategi pemasaran yang paling cocok untuk
kategori produk ini adalah dengan menjaga ketersediaan produk di banyak
lokasi (outlet), menetapkan margin keuntungan yang kecil agar harga penjualan
tidak terlalu tinggi dan gencar beriklan untuk mendorong preferensi merek dan
niat menggunakan atau mencobanya (Kotler, 2000).
Pepsodent merupakan merek pasta
gigi dari berbagai produk yang dihasilkan oleh PT. Unilever Tbk, dengan konsep positioning
sebagai pasta gigi keluarga Indonesia. Pasta gigi ini mempunyai beragam varian
sesuai dengan karakter penggunaan yang berorientasi kepada kepentingan
konsumennya. Terdapat beragam jenis pepsodent mulai dari tipe urlium kemasan
biasa (aluminium foil, dengan variasi ukuran tube), tipe tube
kemasan plastik, tipe rasa baking soda, tipe untuk kesehatan gigi dan gusi dan
lainnya. Kampanye iklan produk-produk Unilever termasuk pepsodent begitu
gencar, sehingga masuk rangking ke-20 dari 25 pengiklan terbesar se-ASEAN.
Industri pasta gigi di Indonesia
dikuasai oleh beberapa merek besar yaitu pepsodent, close up, formula, maxam,
ciptadent, smile up, ritadent dan merek lainnya. (www.swa.co.id). Unilever
menempatkan dua produknya, pepsodent dan close up dalam industri ini. Pepsodent
masuk ke dalam segmen keluarga dan close up diperuntukkan bagi kalangan anak
muda.
Selama 5 tahun berturut-turut,
Pepsodent mampu mempertahankan posisinya sebagai Top Brand pada Top Brand
Award. Dapat dilihat pada Tabel 1.1 di bawah, index pasta gigi Pepsodent memang
yang paling besar diantara merek pasta gigi lainnya namun index tersebut tidak
stabil terutama bila melihat index Pepsodent tahun 2008 yang menurun 4,54% dari
tahun 2007. Hal ini terkait dengan munculnya kabar pada waktu itu yang
menyatakan bahwa pasta gigi Pepsodent mengandung formalin. Namun berkat
tanggapan yang cepat serta upaya dari PT. Unilever, Tbk untuk memberikan
penjelasan yang jujur dan terbuka tanpa menutup-nutupi bahwa Pepsodent dan
produknya yang lain mengandung formaldehyde tetapi masih jauh dibawah
ambang batas yang diperbolehkan membuat masalah ini tidak berkembang menjadi
bola salju.
KESIMPULAN
Konsumen memiliki karakter dan perilaku yang
berbeda tergantung dan beragam aspek namun masih tetap bisa dikenali dengan
pengelompokan pasar berdasar ciri-ciri tertentu dan hubungan antara perilaku
konsumen dengan segmentasi pasar.
Ada keterkaitan yang sangat erat antara perilaku
konsumen dengan segmentasi pasar. Dengan adanya analisa yang tepat mengenal
perilaku konsumen terhadap suatu produk atau jasa maka bisa dipetakan dengan
teliti segmen pasar yang akan dijadikan sasaran nantinya.
Dengan memahami perilaku konsumen maka segmentasi
pasar dapat terpetakan dengan baik yang akan memungkinkan untuk bisa menjual
produk atau jasa dengan tepat sasaran.
Daftar Pustaka :
·
Peter dan Olson, 1996. Perilaku Konsumen dan
Strategi Pemasaran. D. Sihombing (penerjemah). Consumen Behavior.
Gelora Aksara Pratama. Jakarta.
·
Mangkunegara, A.P. 2002. Perilaku Konsumen.
Edisi Revisi. Refika Aditama. Jakarta.
·
Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, 2007. Manajemen
Pemasaran. PT.Index.Jakarta.
·
Sumarwan, U. 2004. Perilaku Konsumen.
Ghalia Indonesia. Jakarta Sutisna, 2002. Perilaku Konsumen dan Strategi
Pemasaran, Rosdakarya, Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar